Kamis, 10 September 2009
Rabu, 25 Maret 2009
Rabu, 23 Januari 2008
DEMOKRASI OLIGARKHI
Lontaran dari seorang kaum muda tersebut seakan menyadarkan kepada semua pengiman demokrasi, bahwa ternyata sama saja selama ini sistem demokrasi yang banyak digandrungi oleh banyak khalayak menawarkan racun di dalamnya.
Sampai hari ini, demokrasi menjadi pemenang tunggal dalam sejarah manusia. Terlebih setelah berbulan madu dengan pasangan abadinya, kapitalisme. Sang pemenang semakin digdaya dalam menjalankan sejarah dunia. Francis Fukuyama bahkan sempat berujar, ”Sejarah telah berakhir”. Artinya, ini membuktikan serta mentasbihkan bahwa sejarah manusia telah mendekati kiamat dengan keluranya demokrasi dan kapitalisme sebagai pemenang. Tidak ada lagi kepalan semangat tangan kiri untuk melawan kapitalisme. Tidak ada lagi revolusi, kata Gunawan Muhammad.
Ungkapan Yudhie H terhadap sistem demokrasi liberal semakin meneguhkan serta menelanjangi tubuh demokrasi kita. Tubuh yang penuh penyakit. Kaum Marxis sudah sedari awal mengkritik bahwa demokrasi hanyalah upaya kaum borjuis untuk merebut sumber kapital. Dengan alasan keteratruran dan ketertiban, kaum borjuis memaksakan demokrasi kepada semua kalangan sehingga pada akhirnya memenangkan mereka.
Kemenangan kaum borjuis dalam rekayasa besarnya tersebut sangat dibantu oleh kepemilikan modal. Kitapun, semakin mafhum bahwa demokrasi sangat membutuhkan biaya yang besar. Persoalan ongkos menurut saya sudah menjadi kemenangan demokrasi, karena sejak awalnya demokrasi direkayasa untuk mengeruk modal. Sampai saat ini, kita hanya mampu mengumpat ketika untuk tahapan pemilu saja sudah menghabiskan anggaran negara sebesar 200 triliun (Data Kompas, 24 Januari 2008).
Kemudian yang tampak adalah demokrasi kita sampai saat ini belum berhasil. Menurut, salah seorang teoritisi demokrasi, J. Scumpeter, demokrasi di
Mitos Demokrasi
Demokrasi dengan predikat pemenang tunggal peradaban akhir-akhir ini diujipentaskan kembali. Yaitu bagaimana hasil dari demokrasi yang telah menelan biaya, kaitannya demokrasi dengan kesejahteraan rakyat. Alur ini mencuat seiring dengan perdebatan mengenai pilihan kesejahteraan atau demokrasi. Artinya, bagaimana tanpa demokrasi bisa sejahtera atau memegang teguh demokrasi tanpa muncul kesejahteraan. Perdebatan tersebut sebenarnya ingin mengugat keberadaan demokrasi. Dan bisa dibilang, demokrasi bisa menjadi terdakwa karena belum terlihat kesejahteraan seperti yang diamanatkan dalam konstitusi kita. Fakta membuktikan tidak ada hubungan yang bersifat berbanding lurus antara demokrasi dengan kesejahteraan. Dan kitapun seharusnya tidak terjebak dalam pemilihan antara demokrasi atau kesejahteraan. Menurut saya, demokrasi adalah sebuah keniscayaan yang harus dikuti oleh peningkatan kesejahteraan rakyat. Sangat rugi jika kita tidak bisa mencapai semuanya. Demokrasi menjadi sejarah yang panjang ketika negeri kita telah melewati zaman otoritarian, di mana kita hanya memperoleh ‘kesejahteraan semu’ dengan pancingan kemapanan ekonomi. Kitapun tidak akan memasukkan totalitarian dalam sejarah bangsa meski menawarkan kesejahteraan.
Free Rider
Menghilangnya kesejahteraan ini karena demokrasi telah ditunggangi oleh penumpang gelap (Free Rider).
Kitapun sulit untuk menangkap mereka. Karena bersembunyi dalam partai politik. Tidak berlebihan menurut saya, karena parpol juga sangat membutuhkan mereka dalam proses demokrasi. Kalau sudah demikian akan sangat sulit untuk menyembuhkan demokrasi kita. Berharap kepada para pemimpin kita juga akan percuma saja karena mereka telah sedemikian kentara dalam mengugurkan Negara kita dengan berpaling dari kesejahteraan rakyat dan bersujud pada kapitalisme.
Kalau tidak ada upaya yang serius terhadap demokrasi kita, kiamat awal menjadi hal yang patut kita tunggu sebentar lagi!.
DEMOKRASI OLIGARKHI
Lontaran dari seorang kaum muda tersebut seakan menyadarkan kepada semua pengiman demokrasi, bahwa ternyata sama saja selama ini sistem demokrasi yang banyak digandrungi oleh banyak khalayak menawarkan racun di dalamnya.
Sampai hari ini, demokrasi menjadi pemenang tunggal dalam sejarah manusia. Terlebih setelah berbulan madu dengan pasangan abadinya, kapitalisme. Sang pemenang semakin digdaya dalam menjalankan sejarah dunia. Francis Fukuyama bahkan sempat berujar, ”Sejarah telah berakhir”. Artinya, ini membuktikan serta mentasbihkan bahwa sejarah manusia telah mendekati kiamat dengan keluranya demokrasi dan kapitalisme sebagai pemenang. Tidak ada lagi kepalan semangat tangan kiri untuk melawan kapitalisme. Tidak ada lagi revolusi, kata Gunawan Muhammad.
Ungkapan Yudhie H terhadap sistem demokrasi liberal semakin meneguhkan serta menelanjangi tubuh demokrasi kita. Tubuh yang penuh penyakit. Kaum Marxis sudah sedari awal mengkritik bahwa demokrasi hanyalah upaya kaum borjuis untuk merebut sumber kapital. Dengan alasan keteratruran dan ketertiban, kaum borjuis memaksakan demokrasi kepada semua kalangan sehingga pada akhirnya memenangkan mereka.
Kemenangan kaum borjuis dalam rekayasa besarnya tersebut sangat dibantu oleh kepemilikan modal. Kitapun, semakin mafhum bahwa demokrasi sangat membutuhkan biaya yang besar. Persoalan ongkos menurut saya sudah menjadi kemenangan demokrasi, karena sejak awalnya demokrasi direkayasa untuk mengeruk modal. Sampai saat ini, kita hanya mampu mengumpat ketika untuk tahapan pemilu saja sudah menghabiskan anggaran negara sebesar 200 triliun (Data Kompas, 24 Januari 2008).
Kemudian yang tampak adalah demokrasi kita sampai saat ini belum berhasil. Menurut, salah seorang teoritisi demokrasi, J. Scumpeter, demokrasi di
Mitos Demokrasi
Demokrasi dengan predikat pemenang tunggal peradaban akhir-akhir ini diujipentaskan kembali. Yaitu bagaimana hasil dari demokrasi yang telah menelan biaya, kaitannya demokrasi dengan kesejahteraan rakyat. Alur ini mencuat seiring dengan perdebatan mengenai pilihan kesejahteraan atau demokrasi. Artinya, bagaimana tanpa demokrasi bisa sejahtera atau memegang teguh demokrasi tanpa muncul kesejahteraan. Perdebatan tersebut sebenarnya ingin mengugat keberadaan demokrasi. Dan bisa dibilang, demokrasi bisa menjadi terdakwa karena belum terlihat kesejahteraan seperti yang diamanatkan dalam konstitusi kita. Fakta membuktikan tidak ada hubungan yang bersifat berbanding lurus antara demokrasi dengan kesejahteraan. Dan kitapun seharusnya tidak terjebak dalam pemilihan antara demokrasi atau kesejahteraan. Menurut saya, demokrasi adalah sebuah keniscayaan yang harus dikuti oleh peningkatan kesejahteraan rakyat. Sangat rugi jika kita tidak bisa mencapai semuanya. Demokrasi menjadi sejarah yang panjang ketika negeri kita telah melewati zaman otoritarian, di mana kita hanya memperoleh ‘kesejahteraan semu’ dengan pancingan kemapanan ekonomi. Kitapun tidak akan memasukkan totalitarian dalam sejarah bangsa meski menawarkan kesejahteraan.
Free Rider
Menghilangnya kesejahteraan ini karena demokrasi telah ditunggangi oleh penumpang gelap (Free Rider).
Kitapun sulit untuk menangkap mereka. Karena bersembunyi dalam partai politik. Tidak berlebihan menurut saya, karena parpol juga sangat membutuhkan mereka dalam proses demokrasi. Kalau sudah demikian akan sangat sulit untuk menyembuhkan demokrasi kita. Berharap kepada para pemimpin kita juga akan percuma saja karena mereka telah sedemikian kentara dalam mengugurkan Negara kita dengan berpaling dari kesejahteraan rakyat dan bersujud pada kapitalisme.
Kalau tidak ada upaya yang serius terhadap demokrasi kita, kiamat awal menjadi hal yang patut kita tunggu sebentar lagi!.
Demokrasi Gagal
Namun seiring fajar demokrasi sekamin menjadi pertanyyan kita bersama, apakah kita akan menemui senja kelabu? atau senja indah. pelaksanaan demokrasi yang telah meninggalkan jejak-jejak yang menyakitkan. pertama, biaya demokrasi yang amat mahal meninggalkan berbagai persoalan, yaitu utang.kita tidak mampu mengelak, biaya demokrasi kita sedikit sumbangan korporasi internasional. kedua, demokrasi meninggalkan anarkisme massa yang tidak terkendali.......atau kita sebut demokrasi amuk. mampukah kita menyelamatkan negeri kita...atau kita bingung menyelamatkan diri kita sendiri?...untuk saat ini cepat ambil bekal untuk segera keluar dari negeri ini.
Selasa, 15 Januari 2008
Bacalah......bacalah.............
yang memanggil dari arah depan........
Salam sejahtera....well, saudaraku sedunia, apa yang perlu kita lakukan di dunia ini? mungkin jawaban yang akan saya berikan yaitu Membaca. Baca kadang kita pikir sebuah kata kecil hanya untuk anak ingusan, yang baru mengenal tulisan......eits! jangan anggap baca itu adalah suatu pekerjaan yang ingusan. Banyak orang merasa sukses dengan membaca, banyak orang merasa terlena dengan membaca...pokoknya baca is neverending. Betapa sulitnya membudayakan membaca, entah karena masyarakat kita ini bukan lagi budaya baca tapi budaya 'ngaca', yang inginnya mencontoh, copy paste dari cermin orang lain, ga Kreatif gitu...looooch. Itulah yang semakin membuat kita tidak bisa bergerak, gerak untuk membuat karya.....bukan sebuah karya plagiasi ato bunglonisasi....ato sebangsanya. Saya meyakini perintah dalam sebuah agama "bacalah......" itu sangat fundamental dan substansial serta universal...begitu mendalamnya pesan sekaligus sindiran dari alam transesnden bagi kita yang mendengar dan sadar akan hal itu. Ok last but not least....budayakan membaca dan berkarya..........mari berkarya..Nyok!
....